DRG Unhas – Sebuah babak baru dalam kajian disabilitas di Indonesia Timur resmi dimulai. Disability Research Group (DRG) Universitas Hasanuddin menggelar pertemuan perdana secara daring pada Jumat, 13 Maret 2026, melalui platform Microsoft Teams. Berlangsung selama lebih dari satu jam, mulai pukul 15.00 hingga 16.03 Wita, pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan antar anggota, tetapi juga menjadi fondasi awal bagi gerakan riset inklusif yang melibatkan secara langsung suara dan pengalaman penyandang disabilitas.
Dipimpin oleh Ketua DRG, Ishak Salim, pertemuan ini mengukuhkan visi bahwa disabilitas bukan semata persoalan medis atau keterbatasan individu, melainkan fenomena sosial, kultural, dan institusional yang membutuhkan pembedahan kritis. Dalam sambutannya, Ishak menegaskan bahwa DRG hadir sebagai Thematic Research Group (TRG) di Unhas yang akan mengkaji disabilitas dari beragam perspektif, mulai dari Disability Studies, Critical Disability Studies, hingga Neurodiversity Studies. Fokus utamanya adalah relasi antara disabilitas dan pembangunan inklusif, kebijakan publik, lingkungan binaan, serta pengalaman hidup para difabel.
Ishak juga memaparkan sejumlah rencana strategis DRG ke depan. Yang paling mengemuka adalah rencana penerbitan jurnal bertajuk Disability and Inclusive Development Journal (DIDJ), penguatan riset kolaboratif dengan mitra nasional dan internasional, serta persiapan proposal untuk skema TRG 2026. Ia juga menyebut dukungan dari mitra strategis seperti INTI International University di Malaysia dan afiliasi dengan PAIR (Partnership for Australia–Indonesia Research) melalui AIC@UNHAS Lab sebagai modal penting untuk memperluas jejaring riset.

Antusiasme Lintas Disiplin dan Lintas Negara
Pertemuan ini dihadiri oleh sembilan peserta yang berasal dari latar belakang akademik yang beragam, mulai dari dosen senior, peneliti, hingga mahasiswa pascasarjana dan sarjana. Mereka datang dari berbagai disiplin ilmu: pendidikan, pengembangan wilayah, antropologi, sosiologi, matematika, hingga kajian gender dan pembangunan. Keberagaman ini menjadi kekuatan awal DRG dalam membangun pendekatan lintas sektoral terhadap isu disabilitas.
Salah satu peserta yang hadir, Ahmad Faiz, yang merupakan dosen Pendidikan dari INTI International University Malaysia, menyampaikan antusiasmenya yang besar untuk bergabung dengan DRG. Ia tidak hanya menawarkan dukungan di bidang penulisan dan publikasi ilmiah, tetapi juga membuka peluang kerjasama internasional melalui skema matching grants dari INTI. Lebih dari itu, Faiz menyatakan minatnya untuk berkolaborasi dalam pengembangan pusat studi disabilitas, mengingat INTI saat ini belum memiliki pusat serupa. Tawaran ini disambut hangat oleh Ishak Salim sebagai pintu masuk bagi DRG untuk memperluas jangkauan risetnya ke tingkat regional.
Menyoroti Isu Aksesibilitas Fisik dan Universal Design
Dari ranah arsitektur dan perencanaan wilayah, Venny Veronica Natalia, dosen Jurusan Pengembangan Wilayah Fakultas Teknik Unhas, memaparkan fokus risetnya yang sangat relevan dengan kebutuhan mendesak di lapangan: universal design dan aksesibilitas fisik. Venny mengusulkan sejumlah tema riset yang menarik, antara lain studi komparatif tentang metode pendidikan inklusif di Makassar dan Kuala Lumpur, dengan penekanan khusus pada aspek arsitektur dan infrastruktur sekolah.
Ia juga menyoroti sebuah fakta penting yang jarang dibahas: rendahnya familiaritas warga difabel terhadap prinsip universal design. Kondisi ini, menurut Venny, berakibat pada lemahnya advokasi dari komunitas disabilitas sendiri terhadap hak-hak mereka atas lingkungan binaan yang aksesibel. Ia mengajak DRG untuk melakukan kajian komparatif praktik aksesibilitas fisik di gedung-gedung sekolah, baik di Sekolah Luar Biasa (SLB) maupun sekolah inklusif, antar negara. Usulan ini membuka peluang riset kolaboratif yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan politis.
Pemetaan Isu: Memulai dari Kebutuhan Lapangan
Ibu Nurlela dari Departemen Sosiologi Unhas memberikan masukan yang sangat fundamental. Ia menekankan pentingnya riset tentang kesejahteraan difabel, namun dengan langkah awal yang sistematis: identifikasi dan pemetaan isu penelitian. Menurutnya, tanpa pemetaan yang jelas, riset-riset yang dilakukan berisiko menjadi tidak terarah dan kurang tepat sasaran.
Menanggapi usulan ini, Ishak Salim langsung mengambil langkah konkret. Ia mengusulkan agar DRG tidak bekerja dalam kevakuman akademik, tetapi justru memanfaatkan keberadaan organisasi-organisasi disabilitas yang sudah aktif di Makassar. Dengan melibatkan organisasi tersebut sejak tahap awal, DRG dapat mengidentifikasi isu-isu yang benar-benar urgen dan mendesak dari perspektif lapangan, bukan hanya dari sudut pandang akademisi. Usulan ini kemudian menjadi salah satu kesepakatan penting dalam rencana tindak lanjut pertemuan.
Mengkritisi Riset yang Hanya di Permukaan
Salah satu momen paling kritis dalam pertemuan ini datang dari Muhammad Ilham, seorang mahasiswa sekaligus anggota DRG yang juga seorang difabel. Ilham tidak hanya menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas pembentukan DRG, tetapi juga menyampaikan kritik tajam terhadap praktik riset disabilitas selama ini.
Ilham mengamati bahwa banyak riset tentang disabilitas hanya mengkaji aspek-aspek permukaan, seperti data statistik atau kebijakan makro, tanpa pernah benar-benar menyentuh pengalaman sehari-hari para difabel. Ia mencontohkan pertanyaan sederhana namun mendalam: mengapa motivasi difabel untuk bersosialisasi di ruang publik cenderung rendah? Pertanyaan seperti ini, menurut Ilham, jarang dijawab oleh riset-riset konvensional.
Lebih jauh, Ilham memperkenalkan sebuah platform bernama DISINI yang sedang ia kembangkan. Platform ini dirancang untuk membantu calon mahasiswa difabel di seluruh Indonesia mendapatkan akses informasi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka. Ilham menggarisbawahi bahwa DRG harus merancang riset yang lebih mendalam, menggunakan metode kualitatif, metode campuran, atau bahkan metode partisipatif yang sungguh-sungguh melibatkan pengalaman langsung para difabel sebagai subjek, bukan sekadar objek penelitian.
Masukan Ilham ini kemudian diperkuat oleh Hasbullah, mahasiswa program doktoral Sosiologi Unhas yang sedang meneliti tentang “Pemilih Disabilitas dalam Perspektif Kritis.” Hasbullah berbagi pengalamannya selama proses riset. Ia mengakui bahwa interaksinya dengan difabel, termasuk dengan Ilham sendiri, memberikannya kekayaan perspektif yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Baginya, pelibatan orang difabel dalam proses riset bukanlah sekadar formalitas etika, tetapi merupakan syarat mutlak untuk menghasilkan pengetahuan yang valid dan bermakna.
Hasbullah juga menyoroti aspek lain yang sering terabaikan: sejak awal, sebuah riset harus sudah memikirkan rekomendasi kebijakan dan target sasarannya. Ia mengingatkan bahwa aspek “berdampak” dari sebuah riset tidak akan tercapai jika rekomendasi hanya disusun sebagai pelengkap di bab akhir, tanpa perhitungan strategis tentang siapa yang akan mengimplementasikannya dan bagaimana caranya.
Riset Inovatif: Navigasi Kampus hingga Interseksi Disabilitas dan Seksualitas
Pertemuan ini juga menjadi ruang bagi anggota muda DRG untuk memaparkan proposal-proposal riset inovatif mereka. Junaidi, mahasiswa Jurusan Matematika Unhas, mengajukan sebuah gagasan yang sangat teknis sekaligus aplikatif: “Perancangan Sistem Navigasi Kampus Inklusif Berbasis Teori Graf dan Algoritma A dengan Bobot Aksesibilitas untuk Penyandang Disabilitas.” Junaidi menyatakan antusiasmenya untuk mendapatkan dukungan dari DRG dalam mengembangkan riset ini. Sistem navigasi yang ia usulkan diharapkan dapat membantu mahasiswa difabel bergerak di lingkungan kampus yang kompleks dengan lebih aman dan mandiri.
Dari ranah kajian gender dan pembangunan, Ida Arianti Said, mahasiswi magister Gender and Development Unhas, memaparkan risetnya tentang “Interseksi Disabilitas dan Seksualitas.” Penelitian ini secara spesifik menggali bagaimana identitas disabilitas berpotongan dengan isu seksualitas, sebuah topik yang masih sangat tabu dan jarang disentuh di Indonesia. Sementara itu, Tiara Ramadhani Sinjar, mahasiswi Antropologi Unhas, sedang meneliti tentang “Tubuh Disabilitas,” sebuah kajian yang melihat bagaimana tubuh difabel dikonstruksi, dinilai, dan diperlakukan dalam relasi sosial dan kekuasaan.
Kesepakatan dan Rencana Tindak Lanjut
Diskusi yang berlangsung selama lebih dari satu jam itu menghasilkan sejumlah kesepakatan penting yang akan menjadi pijakan DRG ke depan.
Pertama, DRG akan segera memfasilitasi pertemuan dengan organisasi-organisasi disabilitas di Makassar untuk melakukan pemetaan isu riset yang mendesak. Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari usulan Ibu Nurlela dan Ishak Salim. Dengan melibatkan organisasi difabel, DRG memastikan bahwa agenda risetnya benar-benar relevan dengan kebutuhan komunitas.
Kedua, DRG berkomitmen untuk mendorong riset-riset yang mendalam, kritis, dan partisipatif. Pendekatan ini merespons masukan dari Muhammad Ilham dan Hasbullah yang mengkritisi riset disabilitas yang selama ini cenderung dangkal dan tidak melibatkan subjeknya secara bermakna.
Ketiga, DRG akan menindaklanjuti tawaran kolaborasi dari Ahmad Faiz, baik dalam hal publikasi, matching grants, maupun pengembangan pusat studi disabilitas. DRG juga akan mengeksplorasi riset kolaboratif dengan Venny Veronica Natalia tentang kajian komparatif aksesibilitas fisik dan universal design.
Keempat, DRG akan memberikan pendampingan kepada proposal-proposal riset anggota yang telah dipaparkan, termasuk riset Junaidi tentang navigasi kampus, Hasbullah tentang pemilih disabilitas, Ida tentang interseksi disabilitas dan seksualitas, serta Tiara tentang tubuh disabilitas.
Kelima, seluruh anggota DRG didorong untuk mulai mempersiapkan proposal riset yang akan diajukan dalam skema TRG 2026, dengan mengintegrasikan hasil diskusi dan pemetaan isu yang akan dilakukan.
Penutup: Dari Riset, Membangun Kampus Inklusif dan Berkeadilan
Pertemuan ditutup dengan optimisme yang tinggi oleh Ishak Salim. Ia kembali mengingatkan seluruh anggota pada tagline DRG yang menjadi kompas gerakan mereka: “Dari Riset, Membangun Kampus Inklusif dan Berkeadilan.” Bagi DRG, riset bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mentransformasi kampus dan masyarakat menjadi ruang yang lebih adil bagi semua, tanpa kecuali.
Dengan keberagangan disiplin anggota, dukungan mitra internasional, dan yang paling penting, keterlibatan langsung para difabel dalam setiap tahapan riset, DRG Unhas menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif bukan sekadar retorika. Ini adalah praktik nyata yang diyakini akan melahirkan pengetahuan yang lebih kaya, rekomendasi yang lebih tajam, dan dampak yang lebih luas bagi kehidupan penyandang disabilitas di Indonesia.






