Yogyakarta, DRG UNHAS– Dr. Ishak Salim, Kepala Disability Research Group yang merupakan bagian dari Thematic Research Group (TRG) Universitas Hasanuddin, menyoroti pentingnya penguatan riset disabilitas berbasis pendekatan kritis dan lintas disiplin. Hal itu ia sampaikan dalam kunjungannya sebagai dosen tamu pada Program Asia Pacific Master of Human Rights and Democratisation (APMA MHRD) di FISIPOL UGM, 31 Maret β 2 April 2026. Menurut Ishak, pengalaman mengajar di kelas internasional ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa isu disabilitas tidak bisa lagi hanya didekati dari sudut pandang medis atau karitatif. βRiset disabilitas perlu melibatkan perspektif kebijakan publik, hukum, arsitektur, hingga teknologi informasi. Ini persis yang coba kami bangun di Disability Research Group Unhas,β ujarnya.
Riset sebagai Kunci Perubahan Kebijakan
Di hadapan mahasiswa pascasarjana dari berbagai negara Asia Pasifik, Ishak memperkenalkan pendekatan interseksionalitas yang dikembangkan KimberlΓ© Crenshaw. Ia menunjukkan bahwa penyandang disabilitas dari kelompok miskin, perempuan, atau etnis minoritas mengalami diskriminasi yang jauh lebih kompleks.
βTanpa riset yang tajam, kebijakan akan selalu abai terhadap kelompok yang paling rentan. Disability Research Group Unhas hadir untuk mengisi kekosongan itu. Kami ingin menghasilkan riset-riset yang tidak hanya akademik, tetapi juga bisa mendorong perubahan kebijakan nyata di Sulawesi Selatan dan Indonesia timur,β tegasnya.
Observasi Aksesibilitas dan Peluang Kolaborasi Riset
Selama di UGM, Ishak juga menyempatkan diri mengamati langsung kondisi aksesibilitas fisik di lingkungan kampus serta berdialog dengan tim Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, termasuk Kepala ULD Ibu Wuri dan pengelola Bapak Bima.
Ia mencatat bahwa meskipun komitmen institusional sudah ada, masih banyak temuan di lapangan yang menunjukkan kesenjangan antara kebijakan dan implementasi. βRamp yang tidak sesuai standar, toilet aksesibel yang kurang terawat, minimnya guiding line untuk mahasiswa disabilitas netraβini semua adalah pertanyaan riset yang menarik. Bagaimana desain universal bisa diimplementasikan di kampus dengan bangunan lama dan baru? Ini bisa jadi proyek riset kolaborasi antara Unhas dan UGM,β ujarnya.

Harapan untuk Penguatan Riset Disabilitas di Unhas
Ishak berharap kunjungan ini menjadi pijakan untuk memperluas jejaring riset disabilitas, tidak hanya dengan UGM tetapi juga dengan perguruan tinggi lain di ASEAN. βDisability Research Group di TRG Unhas saat ini sedang berkembang. Kami butuh kolaborasi riset lintas kampus agar hasil-hasil penelitian kami lebih berdampak, baik secara akademik maupun kebijakan,β tutupnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Critical Emerging Issues in Asia Pacific yang digelar kolaborasi Departemen Politik dan Pemerintahan UGM dengan Mahidol University, Thailand.






