MENGIKUTI WEBINAR PERINGATAN HARI METEOROLOGI DUNIA DI ITB

Authored by: Halmar Halide

MENGIKUTI WEBINAR PERINGATAN HARI METEOROLOGI DUNIA DI ITB

Authored by: Halmar Halide

Tahun 2025, ITB melalui kelompok “Garda Depan Informasi Cuaca dan Iklim Indonesia” yang dimotori oleh Dr Joko Wiratmo kembali memperingati Hari Meteorologi Dunia.

Saya pun kembali diundang menjadi salah satu nara sumber. Acaranya dilakukan dalam bentuk webinar hybrid (via zoom dan juga melalui ruang kelas di ITB). Para nara sumbernya antara lain: Prof. Dwikorita Karnawati (BMKG), Prof Eddy Hermawan (BRIN) dengan materi terkait dampak sosok sistem konvektif mesoscale pada curah hujan di Ibu Kota Nusantara, Dr. Joko Wiratmo (ITB) membawakan presentasi terkait La Nina di Papua, Dr Plato M. Siregar (ITB) membawakan studi simulasi debit banjir maksimum untuk Kab. Tapanulis Selatan, Prof Iskhaq Iskandar (UNSRI) menayangkan kajian iklim ekstrim terkait pemanasan bumi, Prof Rahmat Gernowo (UNDIP) dengan materi tentang prediksi hujan ekstrem jangka panjang, Prof Arismunandar (Staf Khusus Menteri Kebudayaan) dan saya (UNHAS) membawa materi tentang dampak El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Cuaca pada pengelupasan lukisan prasejarah pada sejumlah gua di kawasan UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep.

Pada webinar kali ini, saya ingin menyajikan suatu masalah yang unik namun masih terkait dengan thema peringatan meteorologi dunia. Saya tak semata berbicara lagi tentang permodelan prediktif jangka panjang (beberapa bulan ke depan) fenomena ENSO atau pun peringatan dini cuaca. Kali ini saya ingin mengangkat efek iklim dan cuaca pada warisan budaya nenek moyang kita yang berupa lukisan dinding gua. Lukisan-lukisan ini masih bias dijumpai pada gua (leang) yang berada dalam wilayah UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep.

Bukan rahasia lagi, melalui sejumlah publikasi pada jurnal yang kemudian dirujuk oleh media massa global, warisan budaya tersebut mengalami degradasi dengan tingkat kerusakan yang beragam. Ini tentu menjadi tantangan kita bagaimana agar warisan tersebut masih dapat dinikmati oleh para generasi mendatang. Dalam kaitan ini, ada sejumlah hal yang telah dilakukan. Pertama, pemantauan lukisan secara periodik untuk mengetahui ada-tidaknya perubahan pada suatu lukisan dan berapabesar perubahan yang telah terjadi. Pada kegiatan ini, tim pemantau dari BPCB dan kini menjadi BPK wilayah XIX SulSel adalah tulang punggungnya. Tim ini tak hanya memotret lukisan, namun juga mengukur beberapa peubah mikroklimat secara in-situ (suhu dan kelembapan udara) termasuk kondisi angin dan curah hujan. Data mikroklimat dari tim pemantau inilah plus data cuaca dari NASA USA yang kemudian kami gunakan untuk membuat suatu permodelan yang mengaitkan pengelupasan lukisan gua dan sejumlah peubah lingkungan di sekitar lukisan gua tersebut.

Dalam proses analisis dan permodelan tersebut, aplikasi metoda Artificial Intelligence menjadi komponen penting. Metoda ini saya arahkan dalam pembuatan program MATLAB untuk tujuan tertentu. Melalui sejumlah proses yang dituntun dengan prompt yang tepat, teknik AI ini tidak hanya mampu menemukan lokasi pada lukisan yang mengalami perubahan (baca: pengelupasan), namun ia juga dapat menentukan seberapa besar kerusakan yang telah terjadi. Bantuan ini pun saya perluas lagi yaknii dalam hal membuat model dan menentukan kemamuan model yang mengaitkan antara faktor iklim (ENSO), data cuaca NASA.

Upaya monitoring dan permodelan kerusakan lukisan dinding gua sejogyanya terus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan dalam upaya menentukan faktor-faktor signifikan penyebab kerusakan lukisan. Dengan ditemukannya sejumlah faktor tersebut, kita selanjutnya dapat membuat langkah mitigasi yang tepat untuk tindakan preservasi lukisan prasejarah yang merupakan warisan budaya dunia tak ternilai.Â