PERINGATAN DINI UNTUK MENGHINDARKAN KAMPUS DARI ZONA INTEGRITAS AKADEMIK BERISIKO TINGGI

Authored by: Halmar Halide

PERINGATAN DINI UNTUK MENGHINDARKAN KAMPUS DARI ZONA INTEGRITAS AKADEMIK BERISIKO TINGGI

Authored by: Halmar Halide

Melalui serangkaian artikelku di Kompasiana yang diawali oleh artikelku “Upaya mengeluarkan kampus-kampus dari zona integritas tak-nyaman” pada tanggal 17 Juni 2025, disusul oleh  â€śOrientasi kebijakan kampus dalam menangani situasi pada zona integritas tak-nyaman” pada tanggal 19 Juni 2025, dan “Piranti penangkal publikasi karya ilmiah dari jebakan jurnal bermasalah” pada tanggal 12 Juli 2025, kami berupaya merespon indeks Ri2 (Research Integrity Risk Index) yang dikeluarkan oleh prof Lokman Meho dari American University of Beirut. Hasilnya adalah suatu piranti Unhas Journal Watch (UJW) yang dapat memberi informasi tentang status suatu jurnal (discontinued, cloned, predatory atau aktif termasuk kuartilnya) hanya dengan pemberian nomor ISSN jurnal tersebut. Piranti ini dapat digunakan oleh free registered user via tautan: https://t.me/Unhas_Journal_Watch_Bot. UJW ini sudah saya perkenalkan secara berurutan di LPPM, Senat Akademik dan FKM kampusku. Pada pertemuan di LPPM, seorang peserta menyajikan pengalaman pahitnya dimana ia memasukkan artikelnya pada jurnal terindeks Scopus, namun beberapa waktu kemudian, jurnal itu ternyata berstatus delisted/ discontinued. Ini tentu amat mengecewakan karena akan berimplikasi pada pengajuan BKD (Beban Kerja Dosen), pengusulan kenaikan pangkat/golongan, dan reward (pemberian penghargaan) bagi civitas academica yang menerbikan artikelnya pada jurnal bereputasi (terindeks pada Scopus atau Web of Science). Mampukah  tool UJW mengantisipasi hal ini melalui perannya sebagai pemberi peringatan dini tentang suatu jurnal yang akan discontinued/delisted?

Untuk mewujudkan hal ini, saya pun kembali menghubungi prof Lukman Meho di Beirut via e-mail. Beliau sangat antusias membantu mewujudkan sistem peringatan dini jurnal discontinued ini. Melalui e-mailnya bertanggal 19 Juli 2025, Prof Meho mengirimkan daftar nama-nama jurnal discontinued dari 2 (dua) database yakni  Scopus dan WOS (Web of Science) pada kurun waktu Januari 2020 hingga Juli 2025. Saya melengkapi daftar ini dengan menambahkan terbitan terakhir dari jurnal-jurnal yang telah discontinued tersebut. Semua jurnal yang telah dinyatakan delisted/discontinued tersebut, ternyata hingga tahun 2025 ini masih menerbitkan artikel. Kondisi ini amat memprihatinkan karena para penulis artikel mungkin masih mengira bahwa jurnal-jurnal itu masih terindeks dan tak bermasalah.

Saya mulai menyelidiki faktor atau sejumlah faktor apa saja yang membuat suatu jurnal itu menjadi discontinued. Data awal pun saya kumpulkan tentang kinerja jurnal discontinued dan jurnal aktif (tak bermasalah) pada beberapa tahun terakhir dari Scimagojr.com. Saya menyasar 3 (tiga) faktor terduga yakni: total publication, self-citation dan financial estimates.  Dasar pengambilan para terduga ini karena ini terkait dengan orientasi finansial suatu jurnal (ingin meraup uang sebanyak mungkin dari para korbannya) dan adanya upaya memainkan metrik dampak publikasi melalui self-citation yang berlebihan. Agar model yang saya bangun bisa lebih terpercaya, saya membutuhkan banyak data. Saya pun dibantu oleh mahasiswaku yang baru saja wisuda (Muhlis) yang kemudian merekrut 7 (tujuh) orang mahasiswi angkatan tahun 2023 untuk mewujudkan model peringatan dini ini. Mereka adalah: Athira Suci Ramadhani, Daffa Thufailah, Merli, Tri Giswa Alfiah Ruggayah, Nur Rahmania Ramadhani, Ihya Haeratun Hisani, dan Tri Andjani Azis. Mereka inilah yang berhasil mengumpulkan data dari 41 jurnal discontinued dan 72 jurnal yang masih aktif (belum bermasalah) dari Scimagojr.com. Setelah data terkumpul, sebuah model yang dihasilkan dari interaksiku dengan Perplexity AI untuk membedakan kedua jurnal yang berbeda status itu menggunakan LDA (Linear discriminant Analysis) pun digunakanlah. Hingga saat artikel ini ditulis, UJW barulah mampu membedakan dengan benar sebanyak 88 jurnal dari 113 jurnal yang dilatihkan (tahap model training). Model ini juga diuji menggunakan data sejumlah jurnal yang tak terdapat pada model training. Hasilnya, model hanya mampu membedakan dengan benar 6 dari 10 jurnal yang diujikan (tahap model testing). HaI ini membuka kemungkinan penggunaan algoritma machine learning lainnya untuk memperoleh hasil pembedaan dua kelompok jurnal yang lebih akurat. Itulah jalan yang akan kami tempuh selanjutnya.