Mendemonstrasikan Kemampuan ChatGPT dalam Menentukan Besar Perubahan pada Lukisan Gua Prasejarah

Oleh: Halmar Halide

Mendemonstrasikan Kemampuan ChatGPT dalam Menentukan Besar Perubahan pada Lukisan Gua Prasejarah

Oleh: Halmar Halide

Setelah munculnya publikasi artikel berjudul: “The effects of climate change on the Pleistocene rock art of Sulawesi” pada jurnal Scientific Reports pada tahun 2021, sejumlah media global ramai menjadikannya sebagai headline. Artikel itu bisa diakses via link: https://www.nature.com/articles/s41598-021-87923-3. Publikasi ilmiah apa gerangan yang menjadi topik bahasan pada artikel tersebut? Ini tak lain adalah rusaknya (pupus atau terkelupasnya) peninggalan nenek moyang yang berupa lukisan dinding pada sejumlah gua di Maros-Pangkep. Lukisan-lukisan (cave art) itu telah berusia puluhan ribu tahun menurut hasil analisis sejumlah ilmuwan barat (baca: Australia). Kerusakan pada lukisan-lukisan tersebut ditengarai disebabkan oleh fenomena kekeringan akibat fenomena ekstrim El Niño Southern Oscillation yang disebabkan oleh adanya perubahan iklim. Sekelompok peneliti lainnya mengemukakan, kerusakan tersebut disebabkan oleh kehadiran aerosol sulfur. Reaksi aerosol dengan karst (kalsium karbonat) yang akan membentuk produk gypsum. Kehadiran gypsum inilah yang akan membuat lukisan dinding mengalami pengelupasan (exfoliations atau flakes atau spalling). Ini dijelaskan pada artikel berjudul: “The historical impact of anthropogenic air-borne sulphur on the Pleistocene rock art of Sulawesi” yang dapat diakses via link https://www.nature.com/articles/s41598-022-25810-1. Ada sejumlah kegiatan manusia yang terkaitan dengan pelepesan aerosol sulfur ini antara lain: pembakaran jerami, knalpot kendaraan berbahan bakar diesel dan asap dari cerobong pabrik semen.