Penguatan Pengelolaan Kawasan Konservasi Berkelanjutan Melalui EAFM

Upaya memperkuat tata kelola wilayah laut Indonesia terus dilakukan secara kolaboratif. Terbaru, Prof. Nadiarti selaku ketua Thematic Research Group AMBioC hadir sebagai narasumber utama dalam diskusi teknis bertajuk “Diskusi Teknis Pengelolaan Kawasan Konservasi yang Berkelanjutan”. Diskusi strategis ini diinisiasi oleh Direktorat Konservasi Ekosistem, Ditjen Pengelolaan Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam memastikan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya dilakukan secara formal, tetapi juga efektif secara substansial di lapangan.

Dalam sesi pemaparannya, Prof. Nadiarti menekankan pentingnya penggunaan management framework yang komprehensif. Beliau menyoroti penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) atau pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan. Menurutnya, keberhasilan konservasi sangat bergantung pada sinergi tiga pilar utama, yakni: (1) Ekosistem, yang meliputi kesehatan stok dan habitat (2) Manusia, dan (3) Regulasi. Data EAFM bukan sekadar angka, melainkan pondasi utama dalam menyusun kebijakan yang akurat dan tepat sasaran.

Lebih lanjut, Prof. Nadiarti menjelaskan bahwa konservasi tidak boleh dipandang secara sempit atau terisolasi pada satu habitat saja. Upaya perlindungan laut harus bersifat berkesinambungan dan terkoneksi dengan area penunjang lainnya, termasuk daerah pemijahan (spawning grounds). Beliau memberikan catatan kritis bahwa perlindungan terhadap satu spesies atau area akan menjadi tidak optimal jika elemen penunjang ekosistem di sekitarnya diabaikan. Oleh karena itu, strategi konservasi masa depan harus mencakup perlindungan seluruh elemen ekosistem secara utuh untuk menjamin kelestarian sumber daya laut bagi generasi mendatang.